Intansari Nurjannah: Lika-Liku Menggapai Beasiswa S2 dan S3 Keperawatan di Australia

Nama saya Intansari Nurjannah. Teman-teman memanggil saya Intan, di rumah, nama kecil saya Iin. Saya dulu lulusan S1 Keperawatan dari Universitas Indonesia (UI) tahun 1998, melanjutkan S2 di James Cook University Australia (2005-2007) dan saat ini saya sedang berjuang untuk menyelesaikan S3 di James Cook University Australia juga. Lahir di Yogya, hampir 39 tahun yang lalu, saat ini saya bekerja di sebagai pengajar di Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Saya mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) dua kali baik untuk Magister dan S3. Sebelumnya juga sempat lolos beasiswa DIKTI tetapi karena saya juga dapat ADS maka saya pilih ADS. Perjuangan saya untuk mendapatkan beasiswa bisa dikatakan berliku-liku. Sejak lulus kuliah cuma satu yang saya inginkan yaitu bisa S2 dalam bidang saya, yaitu Keperawatan. Saat itu S2 Keperawatan belum ada di Indonesia. Jadi mau tidak mau harus mencari beasiswa ke luar negeri. Saya pernah mencoba ke Jepang, Swedia, dst, dan semua gagal. Selama mencoba itu, rutin setiap tahun saya apply beasiswa ADS.

Australia menjadi pilihan pertama karena saya berpikir bahwa secara geografis Australia tidak jauh dari Indonesia dan sudah termasuk negara dengan reputasi sekolah keperawatan yang baik. Saya berjuang mencari beasiswa ini sejak lulus kuliah. Belajar ToEFL sendiri meskipun sempat beberapa kali kursus. Mencoba apply ADS sebanyak 6 kali – baru gol – dari sejak belum punya suami, sampai bersuami dan punya anak 2 baru berangkat master (2005). Tiga kali saya gagal masuk shortlist dan dua kali saya berhasil masuk shortlist tetapi masih gagal. Percobaan keenam akhirnya membuahkan hasil. Saya sampai mendapatkan gelar ‘master of candidate’, karena memang jadi kandidat terus tetapi tidak pernah terpilih.

Rasa gemas karena usia semakin bertambah dan tuntutan tempat saya bekerja yang mengharuskan kami S2 dan S3 membuat saya sempat terombang-ambing antara melanjutkan studi sesuai dengan keilmuan saya atau studi ke cabang ilmu lain yang ada di Indonesia.

Pada saat itu hati nurani saya tidak terima karena saya lumayan setia dengan keilmuan saya. Saya membicarakan dengan suami yang kemudian hanya memberikan pertanyaan singkat kepada saya
1. Apakah kamu mau melanjutkan study ke program yang kamu tidak ingin pelajari? Saya jawab tidak
2. Sampai umur berapa batas usia mendaftar ADS? Jawab saya 42 tahun. Kemudian suami saya mengatakan kalau begitu, daftar saja terus sampai usia 42 tahun. Begitu usulnya, yang kembali memompa semangat saya untuk tetap konsisten menggapai cita-cita saya.

Kegagalan saya menjadikan saya ‘expert’ dalam mencari beasiswa ADS. Beberapa hal yang menyebabkan saya gagal akhirnya saya pelajari. Yang paling bermakna adalah ketika saya menyadari bahwa ‘culture’ yang saya miliki menghambat saya untuk bisa melewati fase tes interview dengan baik. Saya kemudian mengikuti workshop terkait dengan wawancara dan saya menjadi paham mengapa beberapa waktu lalu saya gagal memberikan jawaban yang sesuai dengan ‘frame’ penguji yang notabene orang Barat.

Saya dokumentasikan pelajaran dari workshop itu dan kemudian ketika ada teman yang membutuhkan saya berikan dokumentasi saya. Alkhamdulillah tahun ini dia diterima ADS.

Setelah saya selesai S2, saya menyadari bahwa kesempatan melanjutkan S3 akan lebih sulit jika saya tidak segera memanfaatkan momentum baru lulus, koneksi luar negeri, usia yang masih memungkinkan, untuk kembali berburu beasiswa.

Sebelum saya mendapatkan ijazah, saya masih dan terus menghubungi profesor saya pada waktu master untuk bisa mendapatkan rekomendasi untuk S3. Setelah saya mendapatkan ijazah, berbekal dua dokument tsb (ijazah dan rekomendasi) saya mencari beasiswa DIKTI, Endeavour, ALA dan ADS. Pertimbangan saya adalah saya akan berangkat 2 tahun sejak saya lulus S2. DIKTI lolos tetapi saya tetap berjuang mendapatkan ADS, ini karena pertimbangan saya akan membawa keluarga dan dengan ADS, anak-anak saya akan dibebaskan dari school fee.

Alhamdulillah saya berhasil lagi dan segera melanjutkan studi S3. Saya memilih Flinders University untuk S3 saya dengan pertimbangan saya ingin mencari pengalaman yang berbeda dengan sebelumnya. Tetapi ternyata ini bukan pilihan yang terbaik buat saya dan keluarga, karena ternyata kami tidak terlalu tahan dengan cuaca Adelaide yang dingin. Respon anak-anak saya yang sangat ekstrim karena cuaca di Adelaide (keluar masuk UGD karena sakit perut yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya) menyebabkan saya harus berpikir ulang untuk melanjutkan studi di Adelaide.

Dengan berat hati karena meninggalkan teman-teman yang baik di Adelaide, saya transfer studi saya Ke daerah tropis yaitu di JCU Queensland. Proses transfernya cukup rumit dan memakan pikiran, tetapi alhamdulillah lancar.

Manfaat dari belajar di luar negeri bagi kami sekeluarga yang terpenting adalah bahwa kami belajar untuk semakin bersyukur. Kami juga belajar banyak dari kehidupan barat baik memahami hal-hal apa dari barat yang baik maupun yang tidak baik. Secara materiil memang kehidupan di Australia memberikan kesempatan kepada kami untuk memperbaiki status ekonomi ketika pulang, tetapi kami tidak menjadikan itu adalah sesuatu yang utama.

Bagi kami sekeluarga pengalaman studi di Australia tidak hanya mendapatkan ilmu sesuai dengan bidang saya tetapi juga pengalaman hidup yang berharga. Kami memiliki pengalaman unik dimana anak dan suami saya pernah mengalami kecelakaan pada saat naik sepeda berboncengan ditabrak mobil dari belakang (2007). Alhamdulillah atas karunia Allah, baik suami dan anak saya selamat meskipun terlempar 50 meter dari sepeda motor dan sempat di rawat di RS. Pengalaman ini menyebabkan saya harus berurusan dengan rumah sakit, lawyer, polisi, dan seterusnya yang memberikan wawasan tambahan kepada kami. Kami juga merasakan bagaimana Allah mengingatkan kepada kami bahwa siapapun dan apapun yang kita cintai sesungguhnya adalah bukan milik kita. Semua kembali kepada sang Pencipta, Allah SWT. Allah SWT melatih kami untuk suatu saat benar-benar dipisahkan dari apa-apa yang kami cintai.

Bagi saya keberhasilan mendapatkan beasiswa tak lain adalah karena karunia Allah SWT. Betul saya tidak pernah berputus asa dan berjuang terus tanpa henti untuk mencari beasiswa, tetapi penentu berhasil atau tidak adalah Allah SWT. Bersandarlah pada Allah maka Allah akan menunjukkan jalan.

Bagi rekan-rekan yang ingin tahu lebih banyak mengenai liku-liku, strategi untuk memburu beasiswa ADS (terutama) silahkan menghubungi saya lewat Facebook dan atau e-mail: intansarinurjannah@yahoo.com atau intansari.nurjannah@my.jcu.edu.au.

 

Penulis: Intansari Nurjannah, Pengajar di Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) FK Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Link terkait:

8 Comments
  1. gopal
    • Didi Keitha
  2. darmiati
  3. bertha suryani
  4. yuhanti
  5. lusi