Mengenal Asosiasi Psikolog Amerika (APA)

Tahun 2013 ini APA melaksanakan kongres tahunannya yang ke 121. Sudah tua sekali organisasi ini. Kongres pertamanya tahun 1892. Jauh sebelum Perang Dunia I, kakek saya masih kecil atau malah belum lahir sama sekali waktu itu. Apalagi Bung Karno. Tokoh-tokoh pertama APA adalah orang-orang yang namanya saya tulis di buku-buku psikologi saya, seperti William James, J.B. Watson, B.F. Skinner, Kurt Lewin dll.

Sekarang saya ikut menghadiri kongresnya sebagai anggota Internasional (istilahnya International Affiliate) dari organisasi psikologi negara adi-daya yang terancam bangkrut ini (karena duitnya habis buat perang). Ini bukan pertama kali saya ikut kongres APA. Di akhir tahun 1980-an saya pernah hadir di NY, tahun 2003 di Toronto, Kanada (yang ini saya ingat banget karena ketika Bom Marriot I meledak di Jakarta, saya sedang di sana, juga pas dengan listrik padam selama beberapa hari dari Toronto sampai New York, gara-gara gardu listrik di air terjun Niagara meledak atau korsleting), dan tahun 2011 di Washington DC (kebetulan Kak Seto juga hadir, dan kami sempat bertemu dengan Dubes Dino Patti Jalal di KBRI).

Tetapi kehadiran saya di APA sekarang ini agak istimewa buat saya, karena kali ini saya mendapat penghargaan sebagai “Outstanding International Psychologist” yang dianugerahkan oleh Divisi 52, psikologi Internastional, dari Asosiasi Psikologi negara neo-Imperialis (kata Bung Karno) atau negara thogut (kata Abu Bakar Baasyir) ini.

Namun tentang penganugerahan award itu akan saya ceriterakan lain kali kalau saya sudah menerimanya, hari Sabtu yad waktu Hawaii (hari Minggu waktu Jakarta). Sekarang saya ingin berbagi tentang kongres APA 2013 itu sendiri.
Saya tidak tahu berapa jumlah peserta Kongres APA ini (waktu Kongres ICP di Jakarta, awal Juli 2013 y.l., dengan mudah saya menghitungnya, karena jumlahnya hanya 169 peserta, 50 makalah, 5 workshop, 3 Key note speakres dan satu international summit meeting). Yang jelas buku panduannya lebih dari 600 halaman, setiap mata acara diberi nomor yang terdiri dari 4 digit dan nomor yang tertinggi berkepala 5 (5XXX), padahal satu mata acara bisa satu orang (poster session, invited/key note address), 4 orang (paper session), atau lebih (symposium), pokoknya tak terhitung, deh.

Penyelenggaraan dilaksanakan di 3 lokasi: Conention Center (2x lebih besar dari JHCC), Hotel Hilton Ressort, dan Sheraton Waikiki. Tidak ada ruang yang mubazir, semua ruangan terpakai. Pesertanya membludak, tidak hanya di ruang-ruang kelas atau aula-aula, tetapi berserak di kursi-kursi atau sofa-sofa yang tersedia di lobby setiap lantai, di kafe-kafe dadakan yang disediakan panita, di stand-stand toko-toko buku, produser alat tes dan DVD, bahkan di toko-toko ABC (sejenis Alfa/Indo Mart) yang berserak di mana-mana di Honolulu ini. Juga di bis-bis pariwisata yang penuh turis yang mau plesir, banyak yang lupa mencopot name tag-nya sehingga ketahuan bahwa mereka peserta kongres APA (sama saja dengan orang Indonesia, suka membolos). Kesan saya, kongres-kongres APA selalu lebih besar dari pada kongres-kongres organisasi internasional yang terbesar sekalipun, seperti IUPsyS (International Union of Psychological Societies, yang tahun 2004 konges di Beijing, dan 2012 di Johanesburg, Afrika Selatan), maupun IAAP (International Association of Applied Psychology, yang kongresnya tahun 2010 di Melbourne dan 2014 di Paris).

Yang juga saya ingin berbagi adalah Upacara resmi pembukaan. Tidak ada sambutan dari pejabat negara sama sekali. Walikota Honolulu sekalipun tidak muncul, apalagi Presiden Obama. Beda sekali dengan kebiasaan di Indonesia, yang gak afdol kalau gak datangkan minimal seorang Menteri, walaupun tidak berapa lama kemudian, ketika sudah jadi mantan-menteri orang itu gak pernah muncul lagi sama sekali, baik di berita-berita, apalagi di infotainment. Begitu pensiun dari jabatan Menteri, orang Indonesia juga berhenti jadi selebriti.

Jadi seluruh acara pembukaan dikendalikan oleh Presiden APA sendirian, Dr. Donald N. Bersoff. JD, dibantu oleh seorang MC yang hanya kedengaran suaranya (pria) tidak tampak wujudnya. Sambil menunggu aula yang berdaya tampung sekitar 3000-an orang itu penuh, 3 penyanyi pria yang berkemeja Hawaii (disebut Mumu), berkalung bunga Lei, menghibur para tamu. Tidak ada orkestra yang mengiringi kecuali alat musik yang dimainkan oleh ketiga penyanyi itu sendiri: ukulele (gitar kecil, 4 dawai, khas Hawaii, tetapi juga khas orkes keroncong di Indonesia), gitar akustik, dan gitar bas. Tiga alat musik, dengan paduan 3 suara itu melantunkan lagu-lagu Hawaii, merdu sekali. Mau gak mau panggul begoyang di kursi masing-masing.

Sesudah itu muncul Dr. Norman B. Anderson, CEO-nya APA. Di APA dia tidak bekerja sebagai psikolog, melainkan sebagai Chief Excutive Officer yang mengelola organisasi APA sehingga menjadi organisasi psikologi paling raksasa sedunia. Begitu adi-dayanya APA sehingga bisa mendikte komunitas psikologi seluruh dunia. Contohnya, jangan coba-coba menulis untuk jurnal psikologi lokal (apalagi jurnal APA) tanpa menggunakan teknik penulisan APA, pasti ditolak. Bahkan skripsi, tesis dan disertasi lokal di fakultas psikologi manapun di dunia, harus memakai teknik APA. Dr Anderson melaporkan (dengan menggunakan video-clip) kemajuan-kemajuan APA selama ini.

Sesudah Dr Anderson, hiburan lagi. Kali ini tarian hula-hula, yang khas dengan gerakan panggul (oleh sebab itu ketika mendengar musik Hawaiian, yang bergoyang otomatis panggul, bukan kepala yang bergeleng-geleng macam lagu India), dan tangan yang berayun lemah gemulai, ke atas, kebawah, ke samping ke depan (konon melambangkan angin, matahari dan ombak laut). Ada beberapa belas penari, dan seorang penabuh tifa sambil bernyanyi bersahutan dengan para penari. Penabuh tifa dan penari semuanya perempuan, tetapi tidak seorangpun yang potongannya seperti seksi seperti BCL (seperti yang selalu ditampilkan di mal-mal lokal di sini, bahkan di Polynesian Center).

Mereka yang tampil di paggung kongres APA rata-rata bertumbuh tambun, karena buat orang Polynesia, cantik itu tambun. Makin tambun makin seksi. Itulah tari Hula-hula yang sebenarnya, asli dari sononya, bukan yang sudah dikemas untuk meghibur mata turis-turis cowok (saya tidak termasuk, karena isteri saya selalu ikut di sebelah saya, begitu mata saya meleng, kuping saya ditarik).

Sesudah tarian Hula-hula, baru muncul Presiden APA Dr. Bersoff. Dia memberi kata pengantar dengan kalimat-kalimat yang serius tapi sering tiba-tiba membuat orang (yang ngerti bahasa Inggris tentunya) tergelak, karena tiba-tiba lucu (lucu intelktual, beda dari lucunya OVJ). Dia panggil satu persatu tokoh-tokoh psikologi AS yang akan diberi penghargaan (saya tidak termasuk, karena saya bukan WNA/Warga Negara Amerika. Penghargaan untuk saya diberikan oleh Divisi 52, khusus Psikologi Internasional, di suatu acara tersendiri hari Sabtu).

Yang menarik, dua dari empat penerima penghargaan itu adalah orang-orang yang berjasa meanangani kasus-kasus veteran perang, mulai dari perang Vietnam sampai perang Iraq dan Afghanistan. Dr Barbara van Dahlen diberi penghargaan kerena proyeknya “Give one hour” yang berhasil menggerakkan 7000 psikolog relawan se-AS untuk mendonasikan waktunya masing-masing sejam (saya kurang menangkap, per hari atau per minggu) untuk memberi konseling gratis kepada para veteran perang baik yang mengalami PTSD, maupun cacat tubuh dan keluarga serta anak-anak mereka.

Idenya diawali oleh pengalamannya sendiri sebagai anak veteran Perang Vietnam, yang menyaksikan ayahnya tidak pernah pulih dari rasa berasalahnya, sampai beliau meninggal ketika Dr van Dahlen berusia 27 tahun. Dia kemudian membuka praktik konseling untuk para veteran dan keluarganya, tetapi sebagian besar tidak berlanjut karena tidak ada biaya untuk konseling itu. Karena itulah dia membuat gerakan “Give one hour” itu yang menyebabkannya memperoleh gelar “100 orang Amerika paling berpengaruh versi Majalah TIME, tahun 2012.

Penerima award berikut adalah Dr Jon (bukan John, loh!) Nachison. Dia sendiri veteran perang Iraq (atau Afghanistan ya? Saya agak ngantuk waktu dia tampil). Pulang dari perang, dia lontang-lantung walaupun mengantongi beberapa bintang tanda jasa. Jadi dia sekolah lagi, sehingga menjadi psikolog. Di situlah dia baru mengerti, mengapa timbul banyak masalah pada para veteran ini. Mereka yang tadinya berseragam, gagah, sangat PD karena terlatih dan terus-menerus dikendalikan dalam institusi militer (sehingga bukan hanya gagah, melainkan juga gagah-berani), tiba-tiba tanpa seragam, dia bukan siapa-siapa. Pulang ke AS yang sedang dilanda PHK karena kesulitan ekonomi, jadi penganggurangan, Banyak yang kemudian bermasalah dengan keluarganya, depresi dan bahkan menggelandang. Kata Dr. Nachison, veteran perang Vietnam nge-drop (depresi) setelah 8 tahun, tetapi veteran perang Iraq dan Afghanistan, sudah nge-drop sebelum setahun kembali ke tanah-air.

Karena itu Dr Nachison membuat sebuah program yang dinamakannya “Stand Down”. Dia kumpulkan para veteran dari satu batalion tertentu (bersama keluarga masing-masing). Mereka dikumpulkan di suatu perkemahan, dalam kelompok-kelompok peleton dan kompi seperti ketika masih di medan perang. Mereka di sapa dengan pangkat masing-masing dan membawa panji-panji peleton dan kompi masinh-masing. Acara selama tiga hari itu hanya berisi nostalgia-nostalgia (yang sekarang bisa dibagi bersama keluarga) dan makan mengantri, seperti ketika dalam pasukan. Terlihat sekali dalam viedo clip betapa semangat mereka yang sudah depresi itu bisa pulih setelah acara “Stand down” itu. Dr Nachison bukan seorang psikolog klinis, melainkan seorang interventionist (seperti alumni S2 Psi Insos kta, di UI).

Di luar acara pembukaan itu, saya juga sempat menonton film (ada satu ruangan di kongres APA, yang khusus untuk memutar film-film tentang psikologi, termasuk satu film tentang Nyoman, seorang Bali yang trans) tentang bagaimana bekerjanya psikolog-psikolog di militer AS. Di lapangan yang sangat ganas dan sewaktu-waktu bisa dibom musuh, para psikolog itu (laki-laki dan perempuan) dilatih benar-benar seperti seorang tentara beneran lengkap dengan topi baja, senjata laras panjang dan kaca mata hitam (menurut saya ini unik), tetapi dia juga harus konseling anggota tentara yang mulai depresi, ketakutan, rindu pada keluarga, penyandang PTSD, bahkan yang anggota tubuhnya baru diamputasi. Peran ganda ini luar biasa beratnya, dan psikolog-psikolog militer AS dilatih untuk itu. Di antara para penonton film, saya lihat ada beberapa yang berseragam militer Angkatan Laut (Navy). Pastinya mereka psikolog militer, ada yang cowok, ada yang cewek, masih muda-muda, pangkatnya Letnan Satu, semua pastinya psikolog. Saya mau minta foto bareng, tapi gengsi. Biasanya orang yang minta foto bareng sama saya, kok sekarang saya yang minta foto bareng sama orang lain. Gak usah, ya!

Kembali kepada kata sambutan Presiden APA, Dr Bersoff pada acara pembukaan. Dia mengatakan bahwa tema Kongres APA 2013 ini memang diinspirasi oleh persoalan-persoalan para personil militer AS di medan perang, sehingga tiga tema yang diambil adalah (1) Treating Sexual Trauma in Military Personnel, (2) Treating Children and Spouses of Military Personnel, dan (3) Assesement and treatment of Military personnel.

Inilah yang hampir tidak pernah terdengar di luar Amerika. Amerika bukan hanya menghadapi kebangkrutan ekonomi, tetapi lebih parah lagi, sedang menghadapi kehancuran generasi mudanya akibat perang-perang yang sia-sia itu. Para psikolog dalam APA berusaha mati-matian untuk membantu mengurangi dampak negatip terhadap para veteran dan keluargnya, yang semanya adalah angkatan kerja AS yang sedang produktif-produktifnya, tetapi para politisi tidak memikirkan semua itu. Mereka memang bukan politisi korup seperti para angggota parlemen kita yang hanya memikirkan duit untuk diri sendiri, tetapi mareka mau menguasai dunia, mempertahankan gengsi sebagai negara adidaya, dengan perang dan perang, tanpa memikirkan akibatnya.

Penulis: Sarlito Wirawan Sarwono (Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia)